Sejarah Desa Gunungwungkal

Berdasarkan Dokumen RPJM-Desa dan RKP-Desa Gunungwungkal tahun 2010-2014 menerangkan asal mula Desa Gunungwungkal.
Penamaan ini didasarkan pada sebuah peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1825, ketika itu Kabupaten Pati bagian utara sering kali terjadi kerusuhan dimana-mana, kerusuhan ini sangat meresahkan masyarakat kemudian Bupati Pati Adipati Raden TjondroNagara mengadakan sayembara “bagi siapa saja yang bisa memberantas kerusuhan dan mengamankan wilayah pati bagian utara, maka dia akan diangkat dan dijadikan petinggi”. Diantara seseorang yang mengikuti sayembara dan berhasil menumpas kerusuhan tersebut adalah Raden Toh Joyo, dalam menumpas keusuhan tersebut Raden Toh Joyo mempuyai piandel atau pusaka diantaranya umbak (tombak), keris, cemeti (pecut) dan topeng.
Atas keberhasilan yang dicapai maka Raden Toh Joyo diangkat dan dinobatkan sebagai petinggi di Desa Kedung Mbamban, karena di Desa Kedung Mbamban menjadi tempat bersarang orang-orang yang melakukan kerusuhan di Pati bagian utara.
Berawal dari pemerintahan Raden Toh Joyo maka penamaan Desa Gunungwungkal diambil dari kata gunung dan wungkal, gunung yang berarti tempat dan wungkal yang berarti tempat mengasah (mengasah pikiran dan pendidikan). Jadi Desa Gunungwungkal diartikan sebagai tempat untuk mendidik dan membina orang-orang
yang melakukan kerusuhan-kerusuhan tersebut.
Raden Toh Joyo memerintah dari tahun 1825 sampai tahun 1875, setelah Raden Toh Joyo, posisi petinggi desa diberikan kepada Raden Jogo Yudho yang merupakan anak dari Raden Toh Joyo, pada masa Raden Jogo Yudho inilah kantor pemerintahan yang berada di Desa Kedung mbamban dipindah ke Desa Gunungwungkal yang tempatnya berada di dukuh mbelik karajan Selanjutnya jabatan atau yang menduduki sebagai petinggi desa
(kepala desa) ditentukan oleh garis keturunan. Adapun silsilah Kepala Desa Gunungwungkal sebagai berikut :
1. Raden Jogo Yudho dari tahun 1875 sampai 1932.
2. Raden Prawiro Yudho dari tahun 1932 sampai 1975.
3. Raden Iskandar Santoso dari tahun 1975 sampai 1988.
4. Kekosongan Pemerintahan Desa Gunungwungkal tahun
1988-1989, pada tahun ini pemerintahan desa dipegang
oleh Bapak Haji Abdul Bari sebagai sekretaris Desa
Gunungwungkal.
5. Imam Subagyo, BA dari tahun 1989 sampai 1998.
6. Bapak Surasmin dari tahun 1999 sampai 2008.
7. Bapak Purnomo dari tahun 2008 sampai tahun 2014.
8. Penanggung Jawab Kecamatan Gunungwungkal dari
tahun 2014 sampai 2015.
9. Bapak Surasmin dari tahun 2015 sampai sekarang.

A. Raden Tobongso
Raden Tobongso merupakan ayah dari Raden Toh Joyo (peserta sayembara yang berhasil menumpas kerusuhan di Pati bagian utara), berdasarkan keterangan yang diperoleh dari wawancara dengan Bapak Imam Subagyo, dikatakan bahwa Raden Tobongso memiliki seorang istri yang bernama Murtosinah, dari hasil pernikahan beliau mendapatkan seorang anak yaitu Raden Toh Joyo.

B. Raden Jogo Yudho
Raden Jogo Yudho merupakan anak tunggal dari pasangan Raden Toh Joyo dan Bu Murtosidah. Raden Jogo Yudho
menggantikan ayahnya sebagai kepala desa dan beliau juga yang memindahkan pusat pemerintahan dari Desa Kedung Mbamban ke Desa Gunungwungkal, dalam pemerintahannya dibangun pasar desa (Pasar Gunungwungkal) yang berada di dukuh mbelik karajan, dengan adanya pasar ini kehidupan perekonomian masyarakat desa gununwungkal meningkat dengan cara berdagang di pasar. Pasar ini hanya dibuka pada hari tertentu yaitu hari senin,rabu dan sabtu pada masa pemerintahan beliau.
Raden Jogo Yudho juga menentukan hari untuk melakukan kegiatan mengelilingi pasar sebanyak 3 kali dengan mengendarai kuda dan memakai topeng sebagai mahkota, hal ini bertujuan agar masyarakat yang berjualan di pasar dapat diberikan rezeki serta keselamatan dan penglarisan terhadap barang dagangan mereka, dalam perkembangan nya kegiatan mengitari pasar inisekaligus menjadi bagian dari kegiatan Sedekah Bumi Desa Gunungwungkal yang dilakukan hingga saat ini.

C. Raden Prawiro Yudho
Raden Prawiro Yudho merupakan anak dari Raden Jogo Yudho dengan Bu Dasih. Raden Prawiro Yudho memiliki saudara yang bernama Bapak Amin Soeprapto. Raden Prawiro Yudho memerintah sebagai kepala desa dari tahun 1932 sampai tahun 1975. Raden Prawiro Yudho dimakamkan di Desa Gunungwungkal satu komplek dengan Makam Mbah Sentono Gunungwungkal.
Raden Prawiro Yudho memiliki istri yang bernama Bu Suci dan mendapatkan sekitar 12 anak, beberapa nama anak
nya yaitu Iskandar Soebroto, Iskandar Santoso, Siti Sujati, Buntari, Poijo dan Moh Subur.

D. Bapak Iskandar Santoso
Bapak Iskandar Santoso merupakan anak dari Raden Prawiro Yudho, memerintah sebagai Kepala Desa Gunungwungkal dari tahun 1975 sampai tahun 1988. Tidak banyak informasi yang didapatkan mengenai Bapak Iskandar Santoso.

E. Bapak Imam Subagyo
Bapak Imam Subagyo merupakan kepala desa setelah Bapak Iskandar Santoso, beliau menjabat dari tahun 1989 sampai tahun 1998, sebelum Bapak Imam Subagyo naik sebagai kepala desa terjadi kekosongan pemerintahan dikarenakan adanya dua calon kepala desa yang tidak bisa menjadi kepala desa dengan alasan calon yang pertama tidak lulus dalam ujian (Ujian di sini adalah ujian sebelum menjabat sebagai kepala desa, yang melakukan pengujian itu dari kabupaten, soal mengenai ujian berkisar pada tata kelola pemerintahan) sedangkan calon yang kedua karena tidak memenuhi persyaratan pemilihan 2/3 dari jumlah Daftar Pemilih Desa Gunungwungkal.
Bapak Imam Soebagyo merupakan anak dari Bapak Imam Katono serta cucu dari Bapak Amin Soeprapto (saudara
Raden Prawiro Yudho). Bapak Amin Soeprapto menikahi Bu Marmuah dan memiliki anak yaitu Imam Katono, Sri Hadi, Untiati, Sri Paringsih dan Pak Sudibyo.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan